Mengungkap Jejak Sesar di Balik Keindahan Mata Air Banyu Ciblon Lestari
22 Juli 2026

Banyu Ciblon Lestari: Wisata Alam yang Menyimpan Cerita Geologi
erletak di lereng barat daya Gunung Sindoro, Banyu Ciblon Lestari (BCL) merupakan salah satu destinasi wisata alam yang berada di Desa Tlogowero, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi ini berada pada koordinat -7.297174, 110.050266.

Bagi masyarakat sekitar, Banyu Ciblon Lestari dikenal sebagai tempat rekreasi sekaligus sumber mata air yang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Airnya yang jernih dan dingin menjadi daya tarik utama wisata ini. Namun, di balik keindahan tersebut tersimpan sebuah kisah geologi yang menarik untuk ditelusuri.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan yang dilakukan oleh tim, terdapat dugaan bahwa kemunculan mata air di kawasan ini tidak terjadi secara acak, melainkan dikontrol oleh struktur geologi berupa sesar. Hipotesis ini kemudian menjadi dasar dilakukannya serangkaian observasi geomorfologi, geologi, dan hidrogeologi di kawasan Banyu Ciblon Lestari.
Hipotesis Awal: Apakah Mata Air Dikontrol oleh Sesar?
Pada tahap awal penelitian, dilakukan interpretasi kondisi morfologi menggunakan citra hillshade hasil pengolahan Digital Elevation Model (DEM).
Hasil interpretasi menunjukkan adanya kelurusan lembah (lineament) yang memanjang melewati kawasan Banyu Ciblon Lestari. Kelurusan tersebut memiliki pola yang cukup tegas dibandingkan morfologi di sekitarnya. Dalam ilmu geologi struktur, kelurusan morfologi sering kali menjadi salah satu indikator keberadaan sesar, terutama apabila kelurusan tersebut berasosiasi dengan kemunculan mata air. Berdasarkan kondisi tersebut, tim menyusun hipotesis bahwa: Rekahan yang terbentuk akibat aktivitas sesar menjadi jalur permeabilitas sekunder sehingga memungkinkan air tanah bergerak naik menuju permukaan dan membentuk mata air. Hipotesis ini kemudian diuji menggunakan berbagai bukti yang ditemukan di lapangan.
Bukti Pertama: Analisis Kelurusan Menggunakan Hillshade

Gambar 1.1 Peta hillshade Desa Tlogowero dan sekitarnya
Salah satu bukti awal berasal dari analisis geomorfologi menggunakan peta hillshade. Pada peta tersebut terlihat adanya lembah lurus yang memotong daerah penelitian. Pola seperti ini umumnya terbentuk akibat pengaruh struktur geologi dibandingkan proses erosi biasa.
Keberadaan kelurusan tersebut menjadi indikasi awal bahwa kawasan Banyu Ciblon Lestari kemungkinan berada pada zona rekahan atau zona sesar. Walaupun analisis hillshade belum dapat membuktikan keberadaan sesar secara langsung, metode ini sangat efektif untuk menentukan lokasi observasi lapangan yang lebih detail.
Bukti Kedua: Perbandingan dengan Peta Geologi Regional

Gambar 1.2 Peta Geologi Desa Tlogowero dan sekitarnya
Pada peta geologi regional, tidak ditemukan adanya sesar yang secara langsung melewati lokasi Banyu Ciblon Lestari. Namun, kondisi tersebut belum tentu menunjukkan bahwa sesar memang tidak ada. Hal ini disebabkan karena peta geologi regional disusun dengan skala 1 : 100.000, sehingga hanya struktur geologi berukuran besar yang dapat dipetakan.
Sesar-sesar minor atau rekahan lokal sering kali tidak tergambarkan pada skala tersebut. Oleh karena itu, diperlukan observasi lapangan untuk memperoleh bukti yang lebih meyakinkan.
Bukti Ketiga: Litologi Penyusun Kawasan

Gambar 1.3 Litologi punyusun area BCL
Hasil pemetaan geologi menunjukkan bahwa batuan penyusun kawasan wisata didominasi oleh breksi vulkanik. Breksi vulkanik pada umumnya memiliki matriks yang cukup kompak sehingga termasuk batuan dengan permeabilitas rendah.
Secara teori hidrogeologi, batuan seperti ini tidak ideal sebagai media keluarnya air tanah dalam jumlah besar. Namun, kondisi berbeda akan terjadi apabila batuan tersebut mengalami deformasi berupa rekahan atau sesar. Rekahan yang terbentuk akan meningkatkan permeabilitas batuan sehingga air tanah dapat bergerak melalui celah-celah tersebut. Dengan demikian, keberadaan mata air pada batuan breksi justru memperkuat dugaan bahwa terdapat struktur geologi yang berperan sebagai jalur aliran air.
Bukti Keempat: Indikasi Struktur Geologi di Lapangan
Observasi lapangan memberikan bukti yang lebih kuat. Pada tebing bagian selatan kawasan wisata ditemukan beberapa bidang batuan yang memperlihatkan gores garis (slickenside).

Gambar 1.4 Boulder dengan indikasi ditemukannya Slickenside
Selain itu, beberapa bongkah batu (boulder) di sekitar kawasan wisata juga menunjukkan permukaan licin dengan arah gores yang relatif sejajar. Slickenside merupakan salah satu indikator klasik aktivitas sesar karena terbentuk akibat gesekan antar bidang batuan selama proses pergerakan. Temuan ini menjadi bukti bahwa kawasan tersebut pernah mengalami deformasi tektonik. Walaupun masih diperlukan analisis struktur yang lebih rinci, keberadaan slickenside merupakan indikator penting yang mendukung hipotesis awal.
Bukti Kelima: Kemunculan Mata Air pada Rekahan Batuan


Gambar x. Kenampakan ketiga mata air yang ditemukan di area Banyu Ciblon Lestari
Bukti paling menarik ditemukan pada lokasi keluarnya mata air.Di kawasan Banyu Ciblon Lestari ditemukan tiga titik mata air yang berada pada bagian selatan kawasan wisata.
Seluruh mata air tersebut muncul langsung dari rekahan yang berkembang pada batuan breksi. Fenomena ini sangat sesuai dengan konsep hidrogeologi struktur, yaitu air tanah akan memilih jalur dengan hambatan paling kecil. Dalam kondisi batuan breksi yang relatif impermeabel, rekahan hasil aktivitas sesar menjadi jalur utama pergerakan air menuju permukaan. Keberadaan tiga mata air yang tersusun mengikuti zona rekahan memberikan indikasi bahwa aliran air dikontrol oleh struktur geologi.
Interpretasi Geologi Kawasan
Berdasarkan seluruh hasil pengamatan, dapat disusun interpretasi awal mengenai proses terbentuknya mata air di kawasan Banyu Ciblon Lestari.
Aktivitas tektonik pada masa lampau diduga membentuk sesar atau zona rekahan yang memotong batuan breksi vulkanik. Rekahan tersebut meningkatkan permeabilitas batuan sehingga memungkinkan air tanah bergerak dari akuifer di lereng Gunung Sindoro menuju permukaan. Air kemudian muncul sebagai mata air pada beberapa titik sepanjang zona rekahan.
Interpretasi ini didukung oleh beberapa bukti yang saling berkaitan, yaitu:
adanya kelurusan lembah pada peta hillshade
kemunculan mata air yang mengikuti zona rekahan
ditemukannya slickenside pada tebing dan boulder
litologi berupa breksi yang secara normal bersifat impermeabel
distribusi tiga mata air yang berada dalam satu jalur struktur
Walaupun demikian, hipotesis ini masih memerlukan penelitian lanjutan melalui analisis struktur geologi yang lebih rinci, analisis petrografi, serta kajian hidrogeologi untuk memastikan hubungan antara struktur geologi dan sistem aliran air tanah.
Potensi Geowisata dan Edukasi
Temuan-temuan tersebut menjadikan Banyu Ciblon Lestari tidak hanya menarik sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga memiliki potensi sebagai geosite edukatif. Kawasan ini dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pembelajaran lapangan bagi mahasiswa geologi, geografi, teknik sipil, maupun ilmu kebumian lainnya. Pengunjung dapat mempelajari hubungan antara struktur geologi, jenis batuan, bentuk lahan, dan kemunculan mata air secara langsung di lapangan. Dengan pengelolaan yang tepat, Banyu Ciblon Lestari berpotensi dikembangkan sebagai destinasi geowisata berbasis hidrogeologi dan geologi struktur, yang memadukan nilai ilmiah, konservasi, edukasi, dan wisata dalam satu kawasan
