Desa Tlogowero
Desa Tlogowero
Kembali ke Berita

Analisis Kualitas Mata Air di Desa Tlogowero: Sumber Kehidupan di Lereng Gunung Sindoro

8 Agustus 2026

Analisis Kualitas Mata Air di Desa Tlogowero: Sumber Kehidupan di Lereng Gunung Sindoro

Pentingnya Mata Air bagi Masyarakat Desa Tlogowero

Desa Tlogowero, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, merupakan salah satu desa yang berada di lereng Gunung Sindoro. Kondisi geologi dan topografi yang didominasi oleh batuan Breksi vulkanik menjadikan wilayah ini memiliki banyak mata air yang dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber air bersih. Air dari mata air digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti minum, memasak, mandi, mencuci, hingga irigasi lahan pertanian.

Berbeda dengan air permukaan yang kualitasnya mudah berubah akibat aktivitas manusia maupun kondisi cuaca, mata air umumnya memiliki kualitas yang lebih stabil karena berasal dari air hujan yang telah mengalami proses penyaringan alami ketika meresap ke dalam tanah dan batuan. Oleh karena itu, keberadaan mata air memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga ketahanan air masyarakat, terutama pada musim kemarau.

Namun demikian, kualitas setiap mata air tidak selalu sama. Perbedaan kondisi geologi, kedalaman aliran air tanah, serta interaksi air dengan batuan penyusun menyebabkan setiap mata air memiliki karakteristik fisika dan kimia yang berbeda. Oleh karena itu, dilakukan pengukuran beberapa parameter sederhana, yaitu Total Dissolved Solids (TDS), suhu, Electrical Conductivity (EC), dan pH untuk mengetahui kondisi kualitas masing-masing mata air.

Analisis Kualitas Empat Mata Air di Desa Tlogowero

  1. Mata Air 1 Banyu Ciblon Lestari (BCL) 

Hasil Pengukuran

Mata air pertama di kawasan Banyu Ciblon Lestari memiliki kualitas yang sangat baik. Nilai TDS sebesar 94 mg/L menunjukkan bahwa kandungan mineral terlarut masih rendah. Air dengan nilai TDS di bawah 300 mg/L umumnya terasa segar dan nyaman diminum karena tidak mengandung mineral berlebihan.

Nilai pH sebesar 7,3 menunjukkan bahwa air bersifat netral hingga sedikit basa. Kondisi ini merupakan rentang ideal untuk air bersih karena tidak bersifat korosif maupun terlalu asam. Sementara itu, nilai EC sebesar 190 µS/cm juga tergolong rendah sehingga menunjukkan jumlah ion terlarut masih sedikit dan sejalan dengan nilai TDS yang rendah.

Suhu air sebesar 23,4°C masih tergolong normal untuk mata air di daerah pegunungan meskipun sedikit lebih hangat dibandingkan mata air lainnya. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh posisi mata air yang lebih terbuka terhadap sinar matahari.

Kesimpulan

Mata Air 1 BCL memiliki kualitas yang sangat baik dan layak dimanfaatkan sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan parameter yang diukur, air ini memenuhi karakteristik air tawar dengan kandungan mineral yang rendah dan pH yang netral.

  1. Mata Air Telaga Lor 

Hasil Pengukuran

Mata air yang berada di bagian atas lapangan memiliki kandungan mineral sedikit lebih tinggi dibandingkan Mata Air BCL, ditunjukkan oleh nilai TDS sebesar 126 mg/L dan EC sebesar 249 µS/cm. Meskipun demikian, nilai tersebut masih termasuk rendah dan menunjukkan bahwa air belum mengalami pencemaran oleh zat terlarut dalam jumlah besar.

Nilai pH sebesar 7,2 menunjukkan air berada pada kondisi netral sehingga aman bagi penggunaan sehari-hari. Suhu air mencapai 24,3°C, merupakan suhu tertinggi dibandingkan empat mata air yang diamati. Kondisi ini kemungkinan disebabkan lokasi mata air yang lebih terbuka sehingga menerima paparan sinar matahari lebih lama.

Kesimpulan

Kualitas Mata Air Atas Lapangan masih sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai air bersih maupun air minum setelah melalui proses pengolahan sederhana seperti penyaringan dan perebusan. Kandungan mineralnya juga masih berada jauh di bawah batas yang direkomendasikan untuk air minum.

  1. Mata Air Lempong Kulon

Hasil Pengukuran

Mata Air Lempong Kulon memiliki nilai TDS dan EC yang hampir sama dengan Mata Air Atas Lapangan. Hal ini menunjukkan kandungan mineral terlarut yang relatif serupa.

Perbedaan utama terletak pada suhu air yang lebih rendah, yaitu 18,9°C. Suhu yang lebih dingin menunjukkan bahwa air kemungkinan berasal dari aliran air tanah yang lebih dalam atau lokasi mata air yang lebih terlindungi dari sinar matahari.

Nilai pH sebesar 6,9 masih berada dalam kisaran normal untuk air bersih. Meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan mata air lainnya, nilai ini tetap berada dalam rentang yang direkomendasikan untuk air minum.

Kesimpulan

Mata Air Lempong Kulon memiliki kualitas yang baik dan masih sangat layak dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Airnya yang lebih dingin juga memberikan indikasi bahwa sistem akuifer masih bekerja dengan baik dalam menjaga kestabilan kualitas air.

  1. Mata Air Lempong Wetan

 

Hasil Pengukuran

Mata Air Lempong Wetan memiliki karakteristik yang hampir sama dengan tiga mata air lainnya. Nilai TDS sebesar 119 mg/L menunjukkan kandungan mineral yang rendah, sedangkan EC sebesar 243 µS/cm masih termasuk kategori rendah.

Suhu air sebesar 18,4°C merupakan suhu terendah di antara seluruh mata air yang diamati. Hal ini mengindikasikan bahwa air berasal dari sistem aliran bawah permukaan yang relatif stabil dan belum banyak dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

Nilai pH sebesar 7,16 menunjukkan kondisi netral sehingga sangat baik untuk kebutuhan sehari-hari.

Kesimpulan

Mata Air Lempong Wetan merupakan salah satu mata air dengan kualitas yang sangat baik. Suhu air yang dingin, pH netral, serta kandungan mineral yang rendah menunjukkan bahwa mata air ini berpotensi menjadi salah satu sumber air bersih yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Berdasarkan hasil pengukuran lapangan, keempat mata air menunjukkan kualitas fisika dan kimia yang sangat baik.

Beberapa indikator yang mendukung antara lain:

  • Seluruh nilai pH berada pada kisaran 6,9–7,3. Kondisi tersebut sesuai dengan rentang yang direkomendasikan untuk air minum (6,5–8,5).

  • Nilai TDS berkisar antara 94–127 mg/L. Nilai tersebut berada jauh di bawah batas maksimum 500 mg/L yang umum digunakan sebagai acuan kualitas air minum.

  • Nilai EC hanya berkisar 190–251 µS/cm. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kandungan ion terlarut masih rendah dan belum mengindikasikan adanya pencemaran.

  • Suhu air berkisar 18,4–24,3°C, yang masih normal untuk mata air di kawasan pegunungan.

Secara umum, seluruh mata air memiliki kualitas yang baik dan berpotensi digunakan sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, untuk konsumsi langsung sebagai air minum, tetap disarankan dilakukan pengolahan sederhana seperti penyaringan dan perebusan guna menghilangkan kemungkinan adanya mikroorganisme patogen yang tidak dapat diketahui hanya dari pengukuran TDS, pH, EC, dan suhu.

Rekomendasi

Hasil pengukuran lapangan menunjukkan bahwa keempat mata air di Desa Tlogowero memiliki kualitas fisika yang baik berdasarkan parameter suhu, pH, Total Dissolved Solids (TDS), dan Electrical Conductivity (EC). Nilai-nilai tersebut mengindikasikan bahwa air masih tergolong air tawar dengan kandungan mineral terlarut yang rendah serta memiliki tingkat keasaman yang berada dalam kisaran normal. Namun demikian, parameter-parameter tersebut hanya memberikan gambaran awal mengenai karakteristik fisika dan sebagian sifat kimia air. Data tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa air benar-benar aman dikonsumsi secara langsung dalam jangka panjang.

Untuk memperoleh kesimpulan yang lebih komprehensif, diperlukan penelitian lanjutan dengan cakupan parameter yang lebih luas sesuai pedoman kualitas air minum dari WHO dan standar nasional Indonesia. Penelitian lanjutan sebaiknya mencakup beberapa aspek berikut.

1. Aspek Mikrobiologi

Aspek mikrobiologi merupakan parameter yang paling penting dalam menentukan keamanan air minum karena kontaminasi mikroorganisme patogen tidak dapat diketahui hanya melalui pengukuran TDS, pH, EC, maupun suhu. Pengujian yang disarankan meliputi Total Coliform, Escherichia coli (E. Coli). Keberadaan bakteri tersebut dapat menunjukkan adanya pencemaran dari limbah domestik, kotoran hewan, maupun aktivitas manusia di sekitar daerah imbuhan mata air. WHO menekankan bahwa risiko mikrobiologi merupakan salah satu faktor utama dalam penilaian keamanan air minum.

  1. Aspek Kimia

Selain parameter dasar, kualitas air perlu dievaluasi melalui analisis laboratorium terhadap berbagai unsur kimia, seperti nitrat (NO₃⁻), nitrit (NO₂⁻), amonia (NH₃), sulfat (SO₄²⁻), klorida (Cl⁻), fluorida (F⁻), kesadahan (Ca dan Mg), serta kandungan logam seperti besi (Fe), mangan (Mn), timbal (Pb), arsen (As), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg). Analisis ini penting untuk mengetahui apakah terdapat unsur-unsur yang berpotensi membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang.

  1. Pengambilan data lebih dari satu kali dan pada musim yang berbeda

Pengambilan sampel sebaiknya dilakukan lebih dari satu kali, misalnya pada musim hujan dan musim kemarau. Perbedaan curah hujan dapat memengaruhi debit, suhu, kandungan mineral, serta potensi masuknya kontaminan ke dalam sistem air tanah. Dengan demikian dapat diketahui apakah kualitas mata air bersifat stabil sepanjang tahun atau mengalami perubahan musiman.

 

Penutup

Keempat mata air di Desa Tlogowero menunjukkan kualitas yang sangat baik berdasarkan parameter fisika dan kimia yang diukur di lapangan. Kondisi ini mencerminkan bahwa lingkungan sekitar mata air masih relatif terjaga sehingga mampu menghasilkan air dengan kandungan mineral rendah, pH netral, dan karakteristik yang sesuai untuk kebutuhan masyarakat.

Ke depan, upaya konservasi daerah resapan air, perlindungan kawasan sekitar mata air dari pencemaran, serta pemantauan kualitas air secara berkala perlu terus dilakukan agar sumber daya air ini tetap lestari. Dengan pengelolaan yang baik, mata air di Desa Tlogowero tidak hanya menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat saat ini, tetapi juga dapat diwariskan sebagai sumber air bersih yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.